Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Powered by Blogger


Selamat Datang di Blog GKJ Brayat Kinasih, Yogyakarta. Tuhan Yesus Memberkati...


Tampilkan postingan dengan label Khotbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khotbah. Tampilkan semua postingan

Selasa, Februari 01, 2011

KHOTBAH

KENAPA HARUS MENUNGGU SAKIT
(2 Korintus 4 : 16 - 18)

ADA seorang warga seiman yang biasa-biasa saja dalam kehidupannya. Juga dalam
kedewasaan rohaninya, tidak nampak penonjolannya. Bahkan boleh dikata dia itu sering
melakukan perbuatan yang kurang baik dan tercela. Banyak rekan dan warga dekat menasehatinya dengan maksud mengingatkan bahwa hendaklah berhati-hati, jangan mudah terbawa arus jaman. Memang dunia ini semakin lama semakin banyak kekotoran. Tetapi sebagai warga Kristen, hendaklah jangan sampai serupa dengan dunia itu. Kalau bisa kita harus berusaha untuk serupa dengan Kristus.
Nah, suatu ketika, betul dia kena getahnya. Banyak cerita mulai tersiar tentang dia mengenai pekerjaannya yang kurang beres. Sejak dia diserahi tugas memegang keuangan di koperasi kampung, terdengar kasak-kusuk mengenai perbuatannya yang kurang beres itu. Akhirnya perkara itu menjadi permasalahan yang dibawa sampai ke tingkat kelurahan bahkan kecamatan. Maka atas kebijaksanaan Pak Lurah, tugas yang dipercayakan kepadanya di kegiatan koperasi itu dicabut. Jabatannya digantikan ke orang lain.
Memang tidak sejahat orang bayangkan. Sesungguhnya dia itu cukup baik. Setelah peristiwa itu nampak penyesalan hatinya dan jatuh sakit. Maka bertambah-tambahlah penderitaannya. Cukup lama penderitaan itu.
Dari hari ke hari dalam penderitaannya itu dia menjadi semakin tekun beribadah. Dia berusaha dengan sungguh-sungguh mengungsikan dirinya ke hadapan Allah. Justru dalam penderitaannya itulah dia semakin dekat dengan Tuhan dengan penuh kepasrahan. Dia menyadari akan serba kelemahannya dan sungguh-sungguh menyadari bahwa hanya Tuhanlah yang maha kuasa.
Demikianlah Tuhan berkenan membentuk dia. Belakangan baru insyaf, kenapa harus menunggu sakit dahulu? Tetapi pertolongan Tuhan itu tidak pernah terlambat bagi setiap orang yang “bisa rumongso”. Amin. *(Sdm Sny)

Minggu, November 01, 2009

RENUNGAN

RINGKASAN KHOTBAH
Ibadah Minggu, 25 Oktober 2009
Pukul 06.30 WIB.
Pdt. Siswadi, S.Si.
Nats : Markus 10 : 46 – 52
Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku (Ayat 7)
Yesus mengajar dan menyembuhkan sakit-penyakit dengan kuasa mujizat-Nya. Bartimeus tanpa ragu-ragu ada kerinduan dan keberanian dan dengan hati yang mantap dengan keyakinan penuh dia memanggil Yesus. Ia berseru kepada Yesus karena keyakinannya. Apabila kita sebagai orang Kristen mempercayakan diri kita sepenuhnya kepada Yesus dimana akhir-akhir ini ada persoaalan isue-isue bahwa dunia akan berakhir pada tahun 2002. Semua kejadian dalam hidup ini sering mencemaskan kita, untuk itu belajarlah dari Bartimeus yang menempatkan Yesus pada tempat yang terhormat, agung : Yesus sebagai tokoh yang agung dan mulia.
Yesus kasihanilah aku : Nyuwun piwelas den. Sikap ini menunjukkan kerendahan hati, merasa tidak berdaya, tak mampu dan bergantung sepenuhnya pada Yesus. Jawab Yesus : imanmu telah menyelamatkanmu (ay. 52) Kita semua percaya pada Yesus tetapi persoalannya apakah kita sudah mempercayakan seluruh hidup kita pada Yesus?. Kita akui kelemahan, keterbatasan kita bahwa kita tidak sempurna. Untuk itu perlu sikap rendah hati dan serahkan hidup pada Yesus. Amin.



Khotbah Pengantar

PERSATUAN DAN KESATUAN ITU MENDATANGKAN MUJIZAT
(Kejadian 11 : 1 - 9)

JANGAN pernah lupa, tercetusnya Sumpah Pemuda dalam Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928 telah mendatangkan mujizat bagi bangsa Indonesia dan akhirnya perjuangan kemerdekaan bisa tercapai. Ingat pulalah kita pada Firman Tuhan ketika Tuhan melihat anak-anak Nuh membangun menara Babel. Mereka itu satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Inilah baru permulaan dari usaha mereka. Mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. Sedemikian hebat dan dasyatnya kekuatan satu bangsa dan satu bahasa itu, diakui oleh Allah sendiri. Hanya saja untuk apa kekuatan itu, kemana rencana mereka? Dengan kerja keras yang sehati sepikir itu apakah demi kemuliaan Allah atau tidak? Tetapi bahwa kekuatan itu memang sungguh dasyat.
Dalam sejarah umat manusia, mujizat demi mujizat memang telah nyata berkat kerja keras manusia yang dilandasi dengan persatuan dan kesatuan. Kalau yang ditempuh itu memang jalan Tuhan, maka keberhasilan itu pasti. Seperti kisah kemenangan Musa dan Harun, seperti kisah keberhasilan Yosua dan pasukannya sampai runtuhnya tembok Yeriko dan sedemikian mengagumkan banyaknya orang percaya yang bertambah-tambah hingga ribuan orang dalam waktu singkat pada kuatnya persekutuan di gereja mula-mula.
Kita sudah tahu bahwa doa orang benar itu besar sekali kuasanya. Demikian juga kekuatan dari persatuan dan kesatuan dalam persekutuan kita, apabila dilandasi oleh kebenaran, yaitu demi memuliakan Allah, dapat mendatangkan mujizat. Apa yang tidak mungkin, menjadi mungkin, karena Immanuel, Allah menyertai kita.
Janji Tuhan bahwa kerajaan Allah akan datang ke dunia ini dan Yesus Kristus Sang Raja, akan menyatu dengan kita orang-orang percaya yang bersatu. Amin.

Sabtu, Oktober 17, 2009

KHOTBAH

RINGKASAN KHOTBAH
Ibadah Minggu, 11 Oktober 2009
Pukul 06.30 WIB.
Pdt. Tabita, S.Th.

Nats : Markus 10 : 17 – 31
Sesuai lagu anak sekolah minggu : Apa yang cicari orang? jawabnya : uang. Ya kita bekerja demi sesuap nasi namun bonusnya berlian. Sekarang adalah zaman materialisme dimana semua diukur dengan uang. Contohnya : money politik, kalau cari pacar yang matrek, korupsi, kolusi, nepotisme dan dengan uang dapat beli apa saja. Namun uang tidak dapat untuk membeli hidup. Pada perikop ini : Orang kaya mencari Yesus guna mencari hidup kekal. Jawab Yesus jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan ucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang lain (hk 6-10) hormatilah orang tuamu (hk 5). Lalu kata orang itu kepada Yesus : Guru, semuanya itu sudah kuturuti sejak masa mudaku. Jawab Yesus : Hanya satu lagi kekuranganmu, pergilah, juallah apa yang kau miliki dan berikan kepada orang-orang miskin maka engkau akan beroleh harta di sorga lalu datanglah kemari dan ikutlah Aku. mengapa Tuhan memerintahkan seperti itu, karena Yesus mengasihi dia dan supaya dia tidak menyombongkan diri, namun orang kaya ini pergi dengan sedih dan kecewa.
Orang yang beruang (Yunani = Kremata) artinya orang yang menabur segala sesuatu dengan uang dan sukar masuk dalam kerajaan Allah.
Marilah kita mengasihi sesama kita, lingkungan dan mengatur uang dan harta benda seturut dengan Firman Tuhan. Amin.

Sabtu, September 26, 2009

KHOTBAH

SEDANG DIPERSIAPKAN MENUAI KAWAN SEKERJA ALLAH
(Yesaya 41 : 1 - 20)
Minggu, 27 September 2009

MEMANG dunia ini penuh dengan kesulitan, banyak tantangan, penderitaan, bahkan siksaan dan penganiayaan. Bagi orang percaya, satu hal yang harus diingat, bahwa Tuhan tidak pernah mencobai kita. Rancangan Tuhan bukanlah rancangan kecelakaan, melainkan damai sejahtera bagi kita.
Oleh karena itu setiap menghadapi kesulitan apapun, jangan sekali-kali cepat merasa cemas dan kawatir. Bahkan tidak boleh mengeluh dan bersungut-sungut. “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau. Janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu”.
Adapun segala yang kita jumpai, kita hadapi, kita alami dan kita rasakan walaupun bukan dari Allah, tetapi Allah sudah mengetahuinya. Bahkan yang datang dari kuasa kegelapanpun, itu seizin Tuhan. Tuhan memang menguji kita, menempa kita, bahkan membentuk kita untuk dipersiapkan-Nya menjadi sesuatu bentuk yang dikehendaki-Nya lebih baik dan berguna. Waktu ditempa, dibentuk, digembleng, memang sakit dan menderita sekali. Tetapi nanti pada akhirnya akan tahu... apa sesungguhnya maksud Tuhan.
Oleh karena itu justru disaat-saat menderita, kita harus menguatkan percaya kita dan bersyukur kepada Tuhan. Jangan sekali-kali menggerutu atau mengeluh. Rencana baik dari Allah jangan kita tolak dengan bersungut-sungut. Setiap kelulusan kita dari ujian yang ringan, akan dilanjutkan dengan ujian yang makin berat, yang artinya kita akan memperoleh tingkatan yang lebih tinggi. Seperti halnya talenta yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, apabila kita tidak mampu mengembangkannya, tidak akan ditambah lagi anugerahnya itu. Bahkan talenta yang berhenti dan beku itupun akan dicabut, dan dianugerahkan kepada orang lain yang lebih sanggup mengembangkannya. Amin.

Jumat, September 25, 2009

RINGKASAN KHOTBAH

RINGKASAN KHOTBAH
Ibadah Minggu, 20 September 2009
Pukul 18.00 WIB.
Pdt. Sundoyo, S.Si.
Nats : Yohanes 4 : 21 – 24

Hari Minggu adalah hari kemenangan dimana Tuhan Yesus telah mengalahkan maut. Ada dua sikap yang salah:
1. Over Convident; kami orang yang baik, sombong karena prestasi.
2. Over Minder; Terlalu banyak dosa, bodoh dan jelek.
Kedua sikap tersebut di atas menghilangkan peran Tuhan yang memiliki segalanya. Antara suami dan isteri, kalau masing-masing ada yang bisa dirubah, kita bersyukur dan kalau tidak ada yang bisa dirubah kita harus saling menerima apa adanya satu dengan yang lainnya. Kalau kita menyembah Tuhan maka kita harus menjadikan Tuhan pusat hidup kita. Contoh : Pada 1 Tawarikh 29 : 10 - 24. Setelah persembahan dikumpulkan maka Daud memuji Tuhan. Kita harus menyembah Dia dalam roh dan kebenaran. Dalam penderitaan sengsara kita bisa merenungkan Mazmur 27 : 10-11; 13-14. Masalah, kebangkrutan sakit, celaka maka renungkanlah Mazmur 27 tersebut.Fokus penyembahan kita arahkan pada Tuhan, arahkan matamu ke depan saat kita belajar berlayar, arahkan segenap hatimu kepada Yesus sebagai pusat. Kita harus menjaga kekudusan karena Allah itu kudus supaya kita semakin dekat dan mengerti kehendak Tuhan. Tuhan menerima kita apa adanya, namun Dia tidak pernah meninggalkan kita. Kita yang sering bermasalah untuk meninggalkan Dia. Amin.

Senin, November 24, 2008

Khotbah Sulung Pdt. Sundoyo, S.Si.

Kejadian 2 : 7
MENGENAL HAKEKAT DIRI SEBAGAI UPAYA MEMULIAKAN TUHAN.
Waktu saya sekolah minggu, saat saya mendengar cerita penciptaan manusia, saya membayangkan bahwa Tuhan itu membuat “orang-orangan” berbentuk manusia dari tanah liat atau tanah basa yang bisa dibentuk. Kemudian orang-orang itu ditiup oelh Tuhan sampai menggelembung menjadi besar, sebesar manusia dewasa, jadilah manusia yang hidup. Gambaran seperti ini masih melekat pada benak saya sampai say mencoba menafsirkan teks dari Kejadian 2 : 7. Namun dalam proses penafsiran, teks ini memberikan gambaran yang berbeda dari apa yang ada dalam benak saya selama ini.Pada ayat 26 diceritakan bahwa : “Tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu”. Penggambaran bahwa semua muka bumi itu basah menunjukkan waktu (kapan Allah menciptakan manusia) dan juga kenyataan bahwa seluruh permukaan bumi itu basah. Dari fakta pada ayat 6 inilah yang membuat teks asli Ibrani, ayat 7 bagian permulaan memiliki dua kemungkinan penerjemahan.
1. Dia akan menjadikan “Manusia Tanah Kering” atau “Manusia Debu” dari tanah.
2. Dakan menjadikan manusia dari tana kering atau debu

Dua alternative ini muncul karena kata “apar” yang berarti “tanah kering atau debu” berada di antara kata “et haadam” (menjadikan seorang manusia) dan “min haadam” (dari tanah). Jadi kalau kata “apar” menerangkan kata “et haadam” maka muncul alternative terjamahan 1, kalau kata “apar” menerangkan kata “min haadam” maka muncul alternative ke 2. Dua alternative ini mempunyai konsekwensi penafsiran dan penekanan makna yang berbeda.

Kalau alternative pertama : Dia akan menjadikan “Manusia Tanah Kering” atau “Manusia Debu” dari tanah. Mau menekankan bahwa pada hakekatnya manusia itu adalah tanah, manusia itu adalah debu, berasal dari benda mati tetapi menjadi hidup karena hembusan nafas Tuhan. Dengan demikian penekanannya ada pada hakekat manusia yang sesungguhnya, manusia hanyalah tanah. Sehingga menyadarkan kepada kita supaya tidak sombong dan congkak. Kita hidup hanya karena nafas Tuhan kalau nafas itu sudah diambil, kita hanyalah segumpal tanah.

Sedangkan alternative kedua : “Dia akan menjadikan manusia dari tanah kering atai debu”. Ini lebih menunjukkan kepada kita bahan yang seperti apa yang dipakai Tuhan untuk menciptakan manusia. Tuhan memakai debu atau tanah kering untuk menciptakan manusia. Fakta ini perlu untuk diungkap karena memperbandingkan keadaan seperti pada ayat 6 yang menyatakan bahwa seluruh permukaan bumi basah. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan memilih bahan yang kering dari semua permukaan bumi yang basah. Mengambil yang berbeda dari apa yang ada. Saya lebih cenderung menyatakan yang istimewa dari apa yang ada. Ini menggandung makna yang dalam juga bagi kita. Bahwa Allah menciptakan manusia dari bahan yang Tuhan pilih sendiri, yang berbeda dari yang umumnya (yang istimewa). Jadi sebenarnya pada proses penciptaan kta ini sudah terbuat dari bahan pilihan. Jadi kita ini sebenarnya istimewa. Istimewa di hadapan Tuhan. Oleh karena itulah Allah menjadi manusia dalam supa Yesus untuk menyelamatkan kita manusia yang berdosa.

Makna dari kedua alternative ini sesungguhnya dapat kita gabungkan untuk membangun pemahaman kita tentang hakekat manusia. Manusia itu diciptakan oleh Allah dari bahan yang dipilih oleh Allah sendiri, menjadi mahluk yang istimewa di hadapan Tuhan tetapi harus tetap ingat bahwa kita ini hanyalah tanah. Tanah yang mati itu menjadi hidup hanya karena hembusan “nafas hidup” dari Tuhan. Kesatuan antara tanah dan nafas dari Tuhan itulah yang menjadi manusia itu ada, kalau keduanya terpisah maka tidak bisa lagi disebut dengan manusia.
Kalau kita ini pada hakekatnya adalah tanah maka kita perlu belajar dari tanah. Tanah menjadi tempat kita berpijak, tanah menjadi sumber kehidupan yang kita perlukan, tanah menghasilkan makanan, air dan sumber kekayaan yang kita miliki. Kita makan dari hasil bumi dan juga membuang segala kotoran kita ke tanah. Walaupun kita membuang kotoran, sampah dan limbah hasil usaha kita, hal ini tidak membuat tanah berhenti member berkat kepada kita, ia tetap setia, ia tetap sabar dan tidak mendendam. Tetap memberikan kita segala yang kita butuhkan. Sifat-sifat seperti ini juga yang seharusnya ada pada kita. Kita harus memiliki asas manfaat, hidup kita harus berguna bagi sesama. Walaupun mungkin yang kita terima adalah “kotoran” dan “limbah” namun kita tetap setia untuk memberikan yang terbaik kepada sesame kita.

Dalam teks yang kit abaca menunjukkan bahwa yang membuat manusia itu hidup adalah “nafas hidup” yang dihembuskan Tuhan. Nafas hidup inilah daya yang membuat manusia menjadi “ada”. Nafas itu milik Tuhan. Tuhan yang memberikan kepada manusia maka yang sesungguhnya berhak mengambil “nafas hidup” itu adalah Tuhan. Tidak seorang pun berhak menghilangkan nyawa sesamanya. Tuhanlah yang member dan Dialah yang berhak untuk mengambilnya.

Proses penciptaan ini mengingatkan kita pada konsep Jawa tentang : “sangkan paraning dhumadi”. Orang yang baik adalah mereka yang menyadari dari mana ia berasal dan kemana ia nanti akan kembali. Hidup itu pemberian Tuhan dan tujuan hidup juga adalah Tuhan. Tuhan adalah “sangkan” dan “paran”. Pemikiran ini mudah untuk ditulis dan diucapkan tapi tidak semuda untuk mempraktekannya. Kalau mengatakan bahwa Tuhan adalah tujuan dari hidup kita maka kita mengarahkan segala hidup kita hanya kepada Tuhan. Kekayaan, penimbunan harta benda, pangkat, kedudukan bukanlah tujuan hidup. Lalu semua itu apa? Kalau semua itu bukan “paran” dari hidup lalu untuk apa kita sekolah dengan giat, gigih bekerja, berhemat supaya dapat menabung. Semua itu melekat pada kehidupan kita dan semua berguna sebagai sarana kita untuk berguna dan member manfaat bagi orang lain dan menjadi sarana menuju pencarian kebenaran Firman Tuhan.

Hal lain yang dapat kita pelajari dari proses penciptaan manusia adalah kenyataan bahwa manusia itu terdiri dari tanah yang menjadi daging dan juga “nafas Tuhan” yang menjadi daya hidup yang tidak kelihatan. Kesatuan dari keduanya yang membuat manusia itu hidup. Tidak dapat dikatakan manusia kalau yang ada hanya tubuh saja sementara sudah tidak bernyawa. Demikian juga sebaliknya, tidak dapat dikatakan sebagai manusia kalau yang ada hanya nyawasedangkan tidak melekat pada tubuh. Pemikiran yang seperti ini melahirkan paham dualistic, bahwa manusia terdiri dari hal-hal duniawi dan rohani. Namun Alkitab tidak mengajarkan bahwa hal-hal yang rohani lebih penting dari hal-hal jasmani. Keduanya adalah satu kesatuan. Dengan kesadaran seperti inilah yang menjadi landasan pelayanan gereja. Kalau yang dilayani adalah manusia maka pelayanan itu harus bersifat menyeluruh, tidak hanya berkait denga hal-hal rohani saja tetapi juga jasmani.

Dengan memahami hakekat manusia, mengerti siapa kita maka harapan kita semakin memulyakan Tuhan, Semakin mengerti siapa kita di hadapan Tuhan, kita adalah umat ciptaan-Nya, Tuhan adalah pencipta. Apa yang sudah kita lakukan untuk pencipta kita, apa yang sudah kita perbuat sebagai umat ciptaan. Memiliki asal manfaat, berguna bagi sesame dan meiliki sifat seperti tanah menjadi jalan bagi kita untuk memulyakan Tuhan. Kiranya Allah, Bapa Sang Pencipta, Yesus Kristus Penebus dan Roh Kudus selalu menyertai kita pada perjalanan mencari kebenaran Firman Tuha. Amin.

ShoutMix chat widget